Pages

Selasa, 01 Juli 2014

Love is Feeling?



Mungkin memang harus selalu begini. Kita tidak akan pernah bisa tahu sedalam dan setulus apa perasaan cinta kita pada seseorang jika tidak ada masalah yang datang.
 Perjalanan cinta akan selalu baik-baik saja jika di dalam alur ceritanya selalu datar. But, live is never flat. Begitu juga dengan sejarah perjalanan cinta dalam kehidupan kalian bukan? 
Aku memang bukan orang yang memiliki pemahaman yang baik tentang hal yang satu ini. Meski perasaan itu tak selamanya harus diungkapkan, namun itulah cinta. Sebuah rasa yang mampu membuat kita merasa sedih, bahagia, kecewa bahkan meneteskan air mata.
Ketika seseorang jatuh cinta, ia akan merasa berbunga-bunga setiap harinya. Senyum-senyum sendiri, bahagia serasa dalam genggaman. Dunia seakan begitu bersahabat dengannya hingga sering muncul ungkapan “Dunia bagai milik kita berdua”. Ya, tentu saja. Itu hanya opini bagi mereka yang sedang dilanda virus merah jambu.
Lalu bagaimana dengan seseorang yang lebih memilih mencintai dalam diam?
Dalam kasus yang seperti ini biasanya ada banyak alasan di baliknya. Mungkin karena seorang sahabat jatuh cinta pada sahabatnya sendiri. Karena mencintai seseorang yang telah dimiliki oleh orang lain. Karena takut mengungkapkan dan takut ditolak. Karena ingin menjaga harga diri dan kesucian cinta. Karena ingin mempertahankan predikat “Tidak Pernah Pacaran” dan berbagai alasan lainnya. Semuanya logis, memang. Tapi sampai kapan mau bertahan?
Bagaimana rasanya jika kita menyukai seseorang namun sedikitpun orang itu tak pernah mengetahuinya?  Atau bahkan ia tak pernah sedikitpun menoleh ke arah kita. Padahal jika ia memalingkan punggungnya sedikit saja dan mengarahkan matanya untuk menatap kita walau sebentar, kita akan menunjukkan cinta yang begitu tulus yang terpancar dari tatapan mata sebagai penyampai pesan dari lubuk hati yang paling dalam.
Mampukah cinta dalam diammu terus bersemi dan tumbuh sedang kau menyemainya di dalam ruang yang tertutup, kedap cahaya dan hampa udara. Bagaimana benih-benih cintamu bisa tumbuh sedang nutrisi yang ia perlukan tak pernah terpenuhi. Tanah yang ia tumbuhi sudah terlalu tandus. Hujan kasih sayang yang diharapkan akan menyiraminya pun tak kunjung datang. Daya kapilaritas akarnya tak mampu menyerap sisa-sisa unsur hara dan air pada tanah  yang sudah terlalu lama dibiarkan kering kerontang. Engkau memiliki cinta. Ya, engkau jatuh cinta. Namun, pesan dalam hatimu tak pernah tersampaikan pada orang yang kau cintai.
Inikah yang disebut kemarau di sudut hati? 

Ditulis oleh Nur Ahdiah
(Rabu, 02 Juni 2014: 12.30 AM)


0 komentar:

Posting Komentar