Mungkin memang harus selalu begini. Kita
tidak akan pernah bisa tahu sedalam dan setulus apa perasaan cinta kita pada
seseorang jika tidak ada masalah yang datang.
Perjalanan cinta akan selalu baik-baik
saja jika di dalam alur ceritanya selalu datar. But, live is never flat. Begitu juga dengan sejarah perjalanan
cinta dalam kehidupan kalian bukan?
Aku memang bukan orang yang memiliki
pemahaman yang baik tentang hal yang satu ini. Meski perasaan itu tak selamanya
harus diungkapkan, namun itulah cinta. Sebuah rasa yang mampu membuat kita
merasa sedih, bahagia, kecewa bahkan meneteskan air mata.
Ketika seseorang jatuh cinta, ia akan
merasa berbunga-bunga setiap harinya. Senyum-senyum sendiri, bahagia serasa
dalam genggaman. Dunia seakan begitu bersahabat dengannya hingga sering muncul
ungkapan “Dunia bagai milik kita berdua”. Ya, tentu saja. Itu hanya opini bagi
mereka yang sedang dilanda virus merah jambu.
Lalu bagaimana dengan seseorang yang lebih
memilih mencintai dalam diam?
Dalam kasus yang seperti ini biasanya ada
banyak alasan di baliknya. Mungkin karena seorang sahabat jatuh cinta pada
sahabatnya sendiri. Karena mencintai seseorang yang telah dimiliki oleh orang
lain. Karena takut mengungkapkan dan takut ditolak. Karena ingin menjaga harga
diri dan kesucian cinta. Karena ingin mempertahankan predikat “Tidak Pernah
Pacaran” dan berbagai alasan lainnya. Semuanya logis, memang. Tapi sampai kapan
mau bertahan?
Bagaimana rasanya jika kita menyukai
seseorang namun sedikitpun orang itu tak pernah mengetahuinya? Atau bahkan ia tak pernah sedikitpun menoleh ke arah
kita. Padahal jika ia memalingkan punggungnya sedikit saja dan mengarahkan
matanya untuk menatap kita walau sebentar, kita akan menunjukkan cinta yang
begitu tulus yang terpancar dari tatapan mata sebagai penyampai pesan dari
lubuk hati yang paling dalam.
Mampukah cinta dalam diammu terus bersemi
dan tumbuh sedang kau menyemainya di dalam ruang yang tertutup, kedap cahaya
dan hampa udara. Bagaimana benih-benih cintamu bisa tumbuh sedang nutrisi yang
ia perlukan tak pernah terpenuhi. Tanah yang ia tumbuhi sudah terlalu tandus. Hujan
kasih sayang yang diharapkan akan menyiraminya pun tak kunjung datang. Daya kapilaritas
akarnya tak mampu menyerap sisa-sisa unsur hara dan air pada tanah yang sudah terlalu lama dibiarkan kering kerontang.
Engkau memiliki cinta. Ya, engkau jatuh cinta. Namun, pesan dalam hatimu tak
pernah tersampaikan pada orang yang kau cintai.
Inikah yang disebut kemarau di sudut hati?
Ditulis oleh Nur Ahdiah
(Rabu, 02 Juni 2014: 12.30 AM)
0 komentar:
Posting Komentar