Pages

Senin, 30 Juni 2014

Mas Fahriku . . .



Hari ini adalah hari libur yang entah ke berapa yang selalu ku isi untuk mematung di depan laptop. Sibuk merangkai kata namun tak satupun jurnal yang buat membuahkan hasil. Daya nalarku tak berjalan cukup baik hingga ku putuskan untuk meninggalkan perpustakaan daerah lebih awal dari biasanya. Seusai adzan ashar berkumandang, aku memutuskan untuk ke musholla terdekat dan merencanakan untuk langsung pulang sehabisnya.
Ku lewati jalan setapak menuju rumah. Sudah hampir satu bulan aku dan para pengguna jalan lain diharuskan untuk melewati jalan setapak ini karena di jalan utama sedang ada perbaikan jembatan. Bagiku tak masalah, meski jalannya agak sedikit rusak karena hanya berupa tembokan tanah di antara sawah, namun aku sangat menyukainya karena pemandangan di kanan kiri jalan yang masih sangat alami, sawah yang menghijau, jejeran pohon pisang yang begitu lebat lengkap dengan jantung pisang dan buahnya yang mulai menguning serta pegunungan yang nampak berkabut sejauh mata memandang. Tak ketinggalan, burung-burung kecil yang beterbangan mencari makan. Ah sejuk sekali.
* * *
Pukul 12.00 WITA. Aku masih saja sibuk di depan laptop walau waktu telah menunjukkan jam makan siang. Aku masih merasa belum lapar, padahal pagi tadi hanya menyantap satu roti asahi dan segelas susu putih. Jari-jemariku masih saja sibuk menekan tombol keyboard di laptop kesayanganku. Sebuah saksi bisu yang selama ini selalu menemaniku ketika aku meluapkan rangkaian salam hangat dan kerinduanku pada Mas Fahri. Satu jam, dua jam, bahkan hampir setengah hari berlalu. Aku tak bosan-bosannya mencurahkan apa yang ku rasa ke dalam tulisan. Meski Mas Fahri tak akan pernah tahu, bahwa bukan menulis jurnal lah hobi utamaku, melainkan menulis segala hal yang mejadikan dia sebagai objek utamanya.
Hingga saat ini hatiku selalu sibuk merangkai kata yang barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Entah kenapa, aku merasa sangat kehilangan. Padahal saat Mas Fahri masih di sini, kami sangat jarang bertemu. Pertemuan kami dapat di hitung dengan jari. Selama satu tahun, bisa di hitung-hitung hanya 4 kali bertemu. Lebih parah dari temanku dengan kekasihnya yang katanya menjalin hubungan jarak jauh namun selalu menyempatkan untuk bertemu setiap satu bulan sekali. Rumah kami tak begitu jauh, hanya sekitar 30 menit dari rumahku  ke rumahnya, atau dari rumahnya ke rumahku. Hanya saja kami tak pernah mengunjungi satu sama lain kecuali ada hal yang sangat penting atau sekedar menghadiri ada acara keluarga satu sama lain. Keluarganya sudah mengenalku cukup baik. Begitu juga keluargaku. Kami  tidak pacaran, hanya sebagai teman dekat. Tapi apa bedanya. Kami saling mencintai dan menyayangi satu sama lain dan berjanji dalam hati masing-masing untuk saling menjaga. Setiap ada kesempatan dan keinginannya untuk bertemu denganku, aku selalu menolak dengan beribu alasan dan candaan konyolku. Tak lupa, alasan pamungkasku “Kangennya ditahan ya, nanti kalo ketemuan terus jadi kebiasaan. Nggak baik”. Mas Fahri selalu protes walaupun akhirnya mau menurut juga. Sebaliknya, ketika aku yang mengajak bertemu hanya untuk makan bareng di luar, Mas Fahri terlalu sibuk. Entah sesuatu apa yang membuat pertemuan kami selalu gagal. Dia yang sedang kurang sehat, sudah kenyang karena baru saja selesai makan, motor yang sedang dipakai saudaranya atau alasan apalah yang pada akhirnya selalu membuatku ngambek dan tak mau bicara saat ditelpon. Dan sekali lagi, bagaimanapun menyebalkannya Mas Fahri, tetap saja, aku tak bisa ngambek lama-lama. Dia yang selalu minta maaf, selalu mengirim sms seperti biasa, penuh perhatian hingga membuatku tak tega dan tak ingin kehilangan.
Sejak kepergiannya ke Pulau Jawa, aku merasa begitu jauh dengan Mas Fahri. Kepergiannya saat itu hanya untuk menjenguk neneknya yang sedang sakit, namun entah kesempatan sebagus apa yang ditawarkan sebuah perusahaan di Kota Malang itu hingga ia memutuskan untuk menetap di sana dan bekerja. Selama lebih kurang 3 tahun ini juga kami hanya berkomunikasi lewat sms dan sesekali telpon. Itupun jika dia tak sibuk. Terkadang, ketika sama-sama online, kami juga menyempatkan untuk chatting sebentar. Hatiku begitu rindu. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar setelah hari perpisahan di mana waktu itu aku pun hanya sempat bertemu dengannya 1 hari menjelang kepergiannya ke Malang. Bahkan mengantarkannya ke bandara pun aku tak bisa dikarenakan jadwal penerbangannya berbarengan dengan jadwalku mengajar les anak-anak. Sedih memang, berat sekali rasanya melepasnya pergi. Hanya lewat sms ku kirim pesan “Jangan lupa berdoa sebelum berangkat, kabari aku setibanya di sana. Nice Fligt Mas.. J”. Seketika itu juga pesanku di balas. Aku tau saat itu dia pasti tengah berada di bandara. Sebentar lagi dia akan meninggalkan Bandara Syamsudinnor. Dia akan berada jauh dariku. Kami terpisah oleh jarak dengan 2 pulau berbeda sebagai pembatasnya.
“Iya, pasti dikabari sesampainya di sana. Sebentar lagi mas berangkat. Doakan ya. Jangan nakal-nakal selama mas nggak ada di sana, hehe”. Ku genggam erat handhone ku. Aku tak mampu menahan air mataku. Aku benar-benar tak ingin melepasnya pergi. Entah kenapa hatiku berkata, aku tak akan pernah bisa melihatnya lagi.
* * *
Ba’da Isya. Tiiiittt.. dering nada pesan berbunyi. Ku biarkan handphone ku yang masih tergeletak di atas meja. Aku ingin berdoa sebentar, seperti biasa, doa untuk kesehatan dan kelancaran rejeki kedua orang tuaku, kelancaran untuk sekolah adikku, kelancaran atas diriku dan profesiku sekarang sebagai seorang guru juga penulis, kelapangan hatiku, serta terakhir, selalu tercurah doa untuk sang pujaan hatiku, seseorang yang selama ini begitu aku cintai walau di depannya tak pernah sekalipun aku mengungkapkan dengan bahasa lebay seperti gaya anak alay.
Selesai berdoa. Tiiiitttt.. sekali lagi dering nada pesan berbunyi. Ku raih handphone ku, 2 pesan, Mas Fahri. “Assalamu’alaikum, selamat malam J”. Ku buka pesan yang satunya. “Ninaku lagi ngapain? Mas nganggu nggak?”.
“Waalaikumsalam, mas nggak ganggu kok. Tadi habis shalat isya jadi agak lambat bales pesannya”.
Selang beberapa menit, pesanku berbalas. “Iya gapapa, mas cuma mau bilang, besok mas mau berangkat ke Bogor. Ada kerjaan yang harus segera ditangani di sana. Padahal ini tugasnya temen mas, tapi berhubung beliau sedang sakit, mau nggak mau mas yang harus gantiin. Doain mas ya, supaya selamat sampai sana dan lancar semuanya”.
“Iya pasti didoain. Mas juga jangan lupa berdoa sebelum berangkat nanti. Hati-hati di jalan. Jangan terlalu ngebut. Mas kapan pulang ke sini?”
“Emm, kenapa? Kangen ya? hehe”
“Iya . . . . . . . . . . .”
Baru kali ini aku mengakui ketika aku sedang merindukannya. Biasanya setiap ditanya, aku selalu mengelak dan menyimpan kerinduanku.
“Mas juga sangat merindukan Nina. Nina doakan aja semuanya lancar, karena kalo pekerjaan yang akan mas jalankan di Bogor sukses, mas akan minta pindah ke Banjarmasin, ke cabang perusahaan yang  baru di buka perusahaan kami.”
“Serius?”
“Iya, ya udah mas mau nyiapin barang-barang dulu. Besok berangkatnya pagi-pagi. Selamat malam sayang, wassalam”
“Waalaikumsalam warohmatullah . . .”
* * *
Keesokan harinya, sepulang mengajar. Ku buka handphone ku. 12 panggilan tak terjawab. Astagfirullah, dari Fajar. Adik sepupunya Mas Fahri. Baru saja ingin menelpon balik, handphone ku berdering lagi.
“Assalamualaikum, kenapa Fajar? Maaf kakak tadi langi ngajar, baru mau pulang”.
Sayup-sayup ku dengar suara tangis nenek. Begitu juga yang lain.
“Fajar, ada apa? Nenek kenapa?”, aku mulai panik. Firasat buruk mulai menghampiriku.
“Kak Nina, Mas Fahri kak, Mas Fahri kecelakaan saat menuju Bogor. Sebuah truk melaju kencang menabrak mobil yang ditumpangi Mas Fahri dan rekannya. Mas Fahri sekarang di ruang ICU kak, kondisinya kritis.”
Seketika itu juga handphoneku jatuh, air mataku menetes tak bisa terbendung lagi. Aku merasa tubuhku melayang. Kedua kakiku rasanya tak berpijak di tanah lagi. Mas Fahriku kecelakaan . . . Mas Fahriku kritis . . . seketika itu pula, aku jatuh tak sadarkan diri. DCA

Ditulis oleh Nur Ahdiah
(Hari kedua di bulan suci,
Senin, 30 Juni 2014: 10.30 PM)





0 komentar:

Posting Komentar