Hari
ini adalah hari libur yang entah ke berapa yang selalu ku isi untuk mematung di
depan laptop. Sibuk merangkai kata namun tak satupun jurnal yang buat membuahkan
hasil. Daya nalarku tak berjalan cukup baik hingga ku putuskan untuk
meninggalkan perpustakaan daerah lebih awal dari biasanya. Seusai adzan ashar
berkumandang, aku memutuskan untuk ke musholla terdekat dan merencanakan untuk
langsung pulang sehabisnya.
Ku
lewati jalan setapak menuju rumah. Sudah hampir satu bulan aku dan para
pengguna jalan lain diharuskan untuk melewati jalan setapak ini karena di jalan
utama sedang ada perbaikan jembatan. Bagiku tak masalah, meski jalannya agak
sedikit rusak karena hanya berupa tembokan tanah di antara sawah, namun aku
sangat menyukainya karena pemandangan di kanan kiri jalan yang masih sangat
alami, sawah yang menghijau, jejeran pohon pisang yang begitu lebat lengkap
dengan jantung pisang dan buahnya yang mulai menguning serta pegunungan yang
nampak berkabut sejauh mata memandang. Tak ketinggalan, burung-burung kecil
yang beterbangan mencari makan. Ah sejuk sekali.
*
* *
Pukul
12.00 WITA. Aku masih saja sibuk di depan laptop walau waktu telah menunjukkan
jam makan siang. Aku masih merasa belum lapar, padahal pagi tadi hanya
menyantap satu roti asahi dan segelas susu putih. Jari-jemariku masih saja
sibuk menekan tombol keyboard di
laptop kesayanganku. Sebuah saksi bisu yang selama ini selalu menemaniku ketika
aku meluapkan rangkaian salam hangat dan kerinduanku pada Mas Fahri. Satu jam,
dua jam, bahkan hampir setengah hari berlalu. Aku tak bosan-bosannya
mencurahkan apa yang ku rasa ke dalam tulisan. Meski Mas Fahri tak akan pernah tahu,
bahwa bukan menulis jurnal lah hobi utamaku, melainkan menulis segala hal yang
mejadikan dia sebagai objek utamanya.
Hingga
saat ini hatiku selalu sibuk merangkai kata yang barangkali beterbangan di otak
melebihi kapasitas. Entah kenapa, aku merasa sangat kehilangan. Padahal saat
Mas Fahri masih di sini, kami sangat jarang bertemu. Pertemuan kami dapat di
hitung dengan jari. Selama satu tahun, bisa di hitung-hitung hanya 4 kali
bertemu. Lebih parah dari temanku dengan kekasihnya yang katanya menjalin
hubungan jarak jauh namun selalu menyempatkan untuk bertemu setiap satu bulan
sekali. Rumah kami tak begitu jauh, hanya sekitar 30 menit dari rumahku ke rumahnya, atau dari rumahnya ke rumahku. Hanya
saja kami tak pernah mengunjungi satu sama lain kecuali ada hal yang sangat
penting atau sekedar menghadiri ada acara keluarga satu sama lain. Keluarganya sudah
mengenalku cukup baik. Begitu juga keluargaku. Kami tidak pacaran, hanya sebagai teman dekat. Tapi
apa bedanya. Kami saling mencintai dan menyayangi satu sama lain dan berjanji
dalam hati masing-masing untuk saling menjaga. Setiap ada kesempatan dan
keinginannya untuk bertemu denganku, aku selalu menolak dengan beribu alasan
dan candaan konyolku. Tak lupa, alasan pamungkasku “Kangennya ditahan ya, nanti
kalo ketemuan terus jadi kebiasaan. Nggak baik”. Mas Fahri selalu protes
walaupun akhirnya mau menurut juga. Sebaliknya, ketika aku yang mengajak
bertemu hanya untuk makan bareng di luar, Mas Fahri terlalu sibuk. Entah sesuatu
apa yang membuat pertemuan kami selalu gagal. Dia yang sedang kurang sehat,
sudah kenyang karena baru saja selesai makan, motor yang sedang dipakai
saudaranya atau alasan apalah yang pada akhirnya selalu membuatku ngambek dan
tak mau bicara saat ditelpon. Dan sekali lagi, bagaimanapun menyebalkannya Mas Fahri,
tetap saja, aku tak bisa ngambek lama-lama. Dia yang selalu minta maaf, selalu
mengirim sms seperti biasa, penuh perhatian hingga membuatku tak tega dan tak
ingin kehilangan.
Sejak
kepergiannya ke Pulau Jawa, aku merasa begitu jauh dengan Mas Fahri.
Kepergiannya saat itu hanya untuk menjenguk neneknya yang sedang sakit, namun
entah kesempatan sebagus apa yang ditawarkan sebuah perusahaan di Kota Malang
itu hingga ia memutuskan untuk menetap di sana dan bekerja. Selama lebih kurang
3 tahun ini juga kami hanya berkomunikasi lewat sms dan sesekali telpon. Itupun
jika dia tak sibuk. Terkadang, ketika sama-sama online, kami juga menyempatkan
untuk chatting sebentar. Hatiku begitu
rindu. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar setelah hari perpisahan di mana
waktu itu aku pun hanya sempat bertemu dengannya 1 hari menjelang kepergiannya
ke Malang. Bahkan mengantarkannya ke bandara pun aku tak bisa dikarenakan
jadwal penerbangannya berbarengan dengan jadwalku mengajar les anak-anak. Sedih
memang, berat sekali rasanya melepasnya pergi. Hanya lewat sms ku kirim pesan “Jangan
lupa berdoa sebelum berangkat, kabari aku setibanya di sana. Nice Fligt Mas.. J”. Seketika itu juga pesanku di balas. Aku tau saat
itu dia pasti tengah berada di bandara. Sebentar lagi dia akan meninggalkan
Bandara Syamsudinnor. Dia akan berada jauh dariku. Kami terpisah oleh jarak
dengan 2 pulau berbeda sebagai pembatasnya.
“Iya,
pasti dikabari sesampainya di sana. Sebentar lagi mas berangkat. Doakan ya. Jangan
nakal-nakal selama mas nggak ada di sana, hehe”. Ku genggam erat handhone ku. Aku tak mampu menahan air
mataku. Aku benar-benar tak ingin melepasnya pergi. Entah kenapa hatiku
berkata, aku tak akan pernah bisa melihatnya lagi.
*
* *
Ba’da
Isya. Tiiiittt.. dering nada pesan berbunyi. Ku biarkan handphone ku yang masih tergeletak di atas meja. Aku ingin berdoa
sebentar, seperti biasa, doa untuk kesehatan dan kelancaran rejeki kedua orang
tuaku, kelancaran untuk sekolah adikku, kelancaran atas diriku dan profesiku sekarang
sebagai seorang guru juga penulis, kelapangan hatiku, serta terakhir, selalu
tercurah doa untuk sang pujaan hatiku, seseorang yang selama ini begitu aku
cintai walau di depannya tak pernah sekalipun aku mengungkapkan dengan bahasa
lebay seperti gaya anak alay.
Selesai
berdoa. Tiiiitttt.. sekali lagi dering nada pesan berbunyi. Ku raih handphone ku, 2 pesan, Mas Fahri. “Assalamu’alaikum,
selamat malam J”. Ku buka pesan yang
satunya. “Ninaku lagi ngapain? Mas nganggu nggak?”.
“Waalaikumsalam,
mas nggak ganggu kok. Tadi habis shalat isya jadi agak lambat bales pesannya”.
Selang beberapa
menit, pesanku berbalas. “Iya gapapa, mas cuma mau bilang, besok mas mau
berangkat ke Bogor. Ada kerjaan yang harus segera ditangani di sana. Padahal ini
tugasnya temen mas, tapi berhubung beliau sedang sakit, mau nggak mau mas yang
harus gantiin. Doain mas ya, supaya selamat sampai sana dan lancar semuanya”.
“Iya pasti
didoain. Mas juga jangan lupa berdoa sebelum berangkat nanti. Hati-hati di
jalan. Jangan terlalu ngebut. Mas kapan pulang ke sini?”
“Emm,
kenapa? Kangen ya? hehe”
“Iya . . .
. . . . . . . .”
Baru kali
ini aku mengakui ketika aku sedang merindukannya. Biasanya setiap ditanya, aku
selalu mengelak dan menyimpan kerinduanku.
“Mas juga
sangat merindukan Nina. Nina doakan aja semuanya lancar, karena kalo pekerjaan
yang akan mas jalankan di Bogor sukses, mas akan minta pindah ke Banjarmasin,
ke cabang perusahaan yang baru di buka
perusahaan kami.”
“Serius?”
“Iya, ya
udah mas mau nyiapin barang-barang dulu. Besok berangkatnya pagi-pagi. Selamat malam
sayang, wassalam”
“Waalaikumsalam
warohmatullah . . .”
*
* *
Keesokan
harinya, sepulang mengajar. Ku buka
handphone ku. 12 panggilan tak terjawab. Astagfirullah, dari Fajar. Adik sepupunya
Mas Fahri. Baru saja ingin menelpon balik, handphone
ku berdering lagi.
“Assalamualaikum,
kenapa Fajar? Maaf kakak tadi langi ngajar, baru mau pulang”.
Sayup-sayup
ku dengar suara tangis nenek. Begitu juga yang lain.
“Fajar, ada
apa? Nenek kenapa?”, aku mulai panik. Firasat buruk mulai menghampiriku.
“Kak Nina,
Mas Fahri kak, Mas Fahri kecelakaan saat menuju Bogor. Sebuah truk melaju
kencang menabrak mobil yang ditumpangi Mas Fahri dan rekannya. Mas Fahri
sekarang di ruang ICU kak, kondisinya kritis.”
Seketika
itu juga handphoneku jatuh, air
mataku menetes tak bisa terbendung lagi. Aku merasa tubuhku melayang. Kedua kakiku
rasanya tak berpijak di tanah lagi. Mas Fahriku kecelakaan . . . Mas Fahriku
kritis . . . seketika itu pula, aku jatuh tak sadarkan diri. DCA
Ditulis oleh Nur Ahdiah
(Hari kedua di bulan suci,
Senin, 30 Juni 2014: 10.30
PM)
0 komentar:
Posting Komentar