Pages

Sabtu, 14 Juni 2014

Aku menyebut ini, "Cerpen Setengah Jadi"




Setiap wanita memang tak pernah sama. Tak sedikit diantara mereka yang lebih memilih menyimpan perasaan di dalam hatinya ketimbang mengungkapkan dengan kata. Ya, banyak di antara mereka yang lebih memilih sebuah perasaan cinta untuk dijadikan rahasia. Entah, pada siapa, berapa lama bahkan sedalam apa.
***
“Mei, kenapa murung?”, tanya Aisha seusai meminum segelas es sirop yang telah ku suguhkan dengan kue bolu sebagai pelengkapnya tepat di hari ketiga di bulan Syawal. Meskipun Ramadhan telah terlewati dan lebaran pun telah berlalu, namun suasana penuh bahagia nan fitri masih amat sangat terasa.
Ku tatap Aisha lekat-lekat sebelum bertanya, “apa wajahku menunjukkan aku sedang ada masalah?”
Aisha tertawa kecil, menatapku seraya berkata, “Tidak sama sekali. Jika yang menatapmu adalah orang lain. Tapi sebagai sahabatmu, aku tahu kamu itu lagi galau. haha.. Coba cerita, siapa tahu kita bisa memecahkannya bersama."
“Emangnya kamu tahu masalahku, sok-sok mau memecahkannya bersama segala, we we..”
“Ahahaaa...”, lagi-lagi Aisha tertawa kecil. “Aku tahu, berhubungan dengan perasaan yang pasti”. Aisha kembali meledekku.
“Huft, belum cerita udah diledek duluan, mending nggak usah deh”.
“Eh, eh, hari lebaran masa masih mau ngambek, perasaan setengah jam yang lalu baru maaf-maafan denganku”, Aisha kembali cengar-cengir.
Aku hanya diam tak menjawab sepatah katapun. Menunduk, lesu, malu.
Aisha sepertinya paham. “Ukhtiy, bisa ku dengar ceritamu sekarang?”
“Sebentar, aku masuk dulu”, ku lihat umy tak ada di kamar, di dapur pun tak ada, tanpa sengaja ku dengar suara umy di rumah paman, sepertinya sedang asyik berbincang-bincang. Ku temui lagi Aisha yang saat itu sedang menikmati bolu buatan umy.
 “Mungkin aku bisa cerita sekarang, tapi ingat loh jangan diledekin deh, kamu itu nyebelin kadang-kadang”.
“Hehehee, ah iya iya, asal ceritamu jangan lebay, gak usah pakai bahasa yang puitis segala, xixixi”, Aisha tersenyum meledek.
“Woooh, kan kamu yang ngajarin biar bisa jadi pujangga terkenal, haha”
“Udah ah, mua cerita nggak nih, ntar aku pulangnya kemalaman gimana hayooo”
“Eh tadi siapa yang maksa supaya aku cerita, weeeee”. Aku tak mau kalah.
“Heheee, aku kan cuma mau jadi pendengar yang baik, nggak tega deh ngeliat ukhtiy tersayang diterpa kegalauan mulu, ayo dong sharingnya sekarang aja..”
***
“Ini tentang seseorang. Namanya kak Alfin. Aku mengenalnya sejak 2 tahun lalu, mungkin lebih. Awalnya aku dan Kak Alfin hanya teman biasa. Tak tau sejak kapan, perasaanku mulai berubah menjadi kagum, suka atau apalah namanya. Cukup lama perasaan itu ku pendam sendiri. Aku tak pernah bercerita pada siapapun, sampai akhirnya aku ceritakan ini padamu hari ini.
Sebelumnya aku cukup tersiksa dengan perasaan yang ku pendam sendiri. Aku hanya bisa menebak-nebak di dalam ketidakpastian. Aku sering bertanya pada diriku sendiri, rasa semacam apa ini. Aku juga tak pernah menanyakan langsung ada sebab apa di balik perhatian yang dia beri untukku sejak beberapa bulan yang lalu. Mungkin perhatian semacam ini biasa saja, hanya aku yang melebih-lebihkannya hingga menjadi istimewa, untukku. Semuanya hanya bisa kuungkapkan lewat tulisan yang mungkin akan selamanya menjadi file pribadiku. Di depannya, aku hanya berusaha bersikap seperti biasa. Aku terus berusaha menyembunyikan perasaanku sendiri. Aku  takut jika terlalu cepat mengambil keputusan, ujung-ujungnya antara  aku atau dia justru akan ada yang tersakiti. Hari ini, ku buka akun facebookku, tak sengaja ku lihat sebuah komentar dari Kak Alfin di salah satu status perempuan, aku kenal perempuan itu. Dia satu kampus dengan kita ukhtiy. Setahuku Kak Alfin cukup cuek dan tak pernah seperti itu sebelumnya. Perlahan ku raba hatiku, entah kenapa, sesuatu tak berwujud begitu terasa menusuk.  Kenapa aku harus begini?”
***
“Mei, itulah yang dinamakan cemburu”.
“Cemburu? Konyol”.
“Masih belum sadar Mei? Ah pemahamanmu tentang cinta memang selalu buruk, wkwkwk”. Aisha mulai meledek lagi.
“Tapi aku berusaha mengelaknya, aku tak berhak, meskipun kami berteman cukup akrab”.
“Akui saja, kamu mencintainya”
“Seperti itukah?”
“Masih belum sadar? Mau mencari tau dengan cara yang bagaimana lagi? Hanya melihat komentar di sebuah status facebook saja hatimu sudah sakit, bagaimana kalau dia dekat atau mungkin pacaran dengan perempuan lain?”
“Entahlah....”. Aku menunduk lesu.
“Kamu ini memang sulit jatuh cinta, tapi kalo udah sayang sama seseorang ya begitu, cemburuan.... hahaa”, Aisha meledekku lagi.
“Bagaimana cara menghapusnya, setidaknya mengurangi?”
“Jika kamu berkomentar seperti itu dengan teman cowokmu yang lain, apakah menurutmu itu biasa?”
“Iya”
“Lalu kenapa saat dia meng-comment status perempuan lain, kamu merasa sakit?
“Entahlah, aku sudah berusaha untuk tidak begini, tapi tetap saja sakit”
“Dengar Mei, hatimu hanya perlu terbiasa untuk peka menghadapi hal kecil seperti ini. Hatimu sekarang mungkin terlalu lembek, itu yang menyebabkan rasa sakit begitu mudah menusuk. Jangan biarkan ia menyerang hatimu. Jika itu adalah rasa egois, maka berantas ia. Ia hanya akan menghancurkan segalanya, termasuk perasaan cinta. Percayalah, jika seorang laki-laki telah menyayangi seorang wanita, ia tak akan mudah untuk melupakannya begitu saja, ini pernah ku dengar dari cerita abangku. Kamu perlu berlatih, cemburu memang wajar tapi kalau sudah melebihi batas, akan berefek negatif pada diri kita sendiri termasuk orang lain. Itu salah satu sebab kenapa sepasang kekasih atau bahkan sepasang suami istri sering bertengkar. Rasa semburu yang sulit dikendalikan. Ketika hati mulai terasa sakit dan panas karena kobaran api cemburu yang mulai menyala, segala sikap yang buruk beserta sumpah serapah akan keluar, tak jarang justru orang yang tak tau apa-apa malah ikut menjadi korban. Latihlah hatimu agar ia peka. Berusahalah percaya pada orang lain, terlebih pada orang yang kamu sayang. Yakinlah, kepercayaan itu akan berbuah kebaikan. Itu bisa dijadikan ladang pahala. Percaya, Allah pun akan menggantinya dengan kebaikan pula, kebaikan yang berkah, insyaallah.”
***
 “Ustadzah mulai ceramah deh..”
“Ampun deh, Mei, sekali-sekali nurut apa sama kata-kata mutiaraku, hahaha..”
“Ih dasar, kata mutiara mana ada sepanjang itu. Lebay banget malah. Sok bijak pula”.
“Hmmmm, percuma ngomong sama jomblo, besok-besok jangan curhat sama aku lagi, ingat loh ya!”
“Eh eh jangan ngambek dong sahabatku sayang, nggak kasian apa lihat aku galau....”
“Ah nggak ngaruh, mending pulang aja ah udah mau maghrib nih, dah jomblo akut, wkwkwk”.
Aisha meninggalkanku sambil berlari-lari kecil. Meski begitu aku tahu dia adalah orang pertama yang selalu bersedia menjadi pendengar yang baik saat aku ingin mencurahkan segala cerita yang kupunya. Oke, nasihat panjang dari sahabat terbaikku Aisha akan ku coba pahami. Harus!
 Ditulis oleh Nur Ahdiah
Sabtu, 10 Agustus 2013 (Ba’da isya)







0 komentar:

Posting Komentar