Setiap
wanita memang tak pernah sama. Tak sedikit diantara mereka yang lebih memilih
menyimpan perasaan di dalam hatinya ketimbang mengungkapkan dengan kata. Ya,
banyak di antara mereka yang lebih memilih sebuah perasaan cinta untuk
dijadikan rahasia. Entah, pada siapa, berapa lama bahkan sedalam apa.
***
“Mei,
kenapa murung?”, tanya Aisha seusai meminum segelas es sirop yang telah ku
suguhkan dengan kue bolu sebagai pelengkapnya tepat di hari ketiga
di bulan Syawal. Meskipun Ramadhan telah terlewati dan lebaran pun telah
berlalu, namun suasana penuh bahagia nan fitri masih amat sangat terasa.
Ku tatap Aisha
lekat-lekat sebelum bertanya, “apa wajahku menunjukkan aku sedang ada masalah?”
Aisha tertawa
kecil, menatapku seraya berkata, “Tidak sama sekali. Jika yang menatapmu adalah orang lain. Tapi sebagai sahabatmu, aku tahu kamu itu lagi galau. haha.. Coba cerita, siapa tahu kita bisa memecahkannya bersama."
“Emangnya
kamu tahu masalahku, sok-sok mau memecahkannya bersama segala, we we..”
“Ahahaaa...”,
lagi-lagi Aisha tertawa kecil. “Aku tahu, berhubungan dengan perasaan yang
pasti”. Aisha kembali meledekku.
“Huft,
belum cerita udah diledek duluan, mending nggak usah deh”.
“Eh, eh,
hari lebaran masa masih mau ngambek, perasaan setengah jam yang lalu baru
maaf-maafan denganku”, Aisha kembali cengar-cengir.
Aku hanya
diam tak menjawab sepatah katapun. Menunduk, lesu, malu.
Aisha sepertinya
paham. “Ukhtiy, bisa ku dengar ceritamu sekarang?”
“Sebentar,
aku masuk dulu”, ku lihat umy tak ada di kamar, di dapur pun tak ada, tanpa
sengaja ku dengar suara umy di rumah paman, sepertinya sedang asyik
berbincang-bincang. Ku temui lagi Aisha yang saat itu sedang menikmati bolu buatan
umy.
“Mungkin aku bisa cerita sekarang, tapi ingat
loh jangan diledekin deh, kamu itu nyebelin kadang-kadang”.
“Hehehee,
ah iya iya, asal ceritamu jangan lebay, gak usah pakai bahasa yang puitis
segala, xixixi”, Aisha tersenyum meledek.
“Woooh,
kan kamu yang ngajarin biar bisa jadi pujangga terkenal, haha”
“Udah ah,
mua cerita nggak nih, ntar aku pulangnya kemalaman gimana hayooo”
“Eh tadi
siapa yang maksa supaya aku cerita, weeeee”. Aku tak mau kalah.
“Heheee,
aku kan cuma mau jadi pendengar yang baik, nggak tega deh ngeliat ukhtiy
tersayang diterpa kegalauan mulu, ayo dong
sharingnya sekarang aja..”
***
“Ini
tentang seseorang. Namanya kak Alfin. Aku mengenalnya sejak 2 tahun lalu,
mungkin lebih. Awalnya aku dan Kak Alfin hanya teman biasa. Tak tau sejak
kapan, perasaanku mulai berubah menjadi kagum, suka atau apalah namanya. Cukup
lama perasaan itu ku pendam sendiri. Aku tak pernah bercerita pada siapapun, sampai
akhirnya aku ceritakan ini padamu hari ini.
Sebelumnya
aku cukup tersiksa dengan perasaan yang ku pendam sendiri. Aku hanya bisa
menebak-nebak di dalam ketidakpastian. Aku sering bertanya pada diriku sendiri,
rasa semacam apa ini. Aku juga tak pernah menanyakan langsung ada sebab apa di
balik perhatian yang dia beri untukku sejak beberapa bulan yang lalu. Mungkin
perhatian semacam ini biasa saja, hanya aku yang melebih-lebihkannya hingga menjadi
istimewa, untukku. Semuanya hanya bisa kuungkapkan lewat tulisan yang mungkin
akan selamanya menjadi file pribadiku. Di depannya, aku hanya berusaha bersikap
seperti biasa. Aku terus berusaha menyembunyikan perasaanku sendiri. Aku takut jika terlalu cepat mengambil keputusan,
ujung-ujungnya antara aku atau dia
justru akan ada yang tersakiti. Hari ini, ku buka akun facebookku, tak sengaja
ku lihat sebuah komentar dari Kak Alfin di salah satu status perempuan, aku
kenal perempuan itu. Dia satu kampus dengan kita ukhtiy. Setahuku Kak Alfin
cukup cuek dan tak pernah seperti itu sebelumnya. Perlahan ku raba hatiku,
entah kenapa, sesuatu tak berwujud begitu terasa menusuk. Kenapa aku harus begini?”
***
“Mei, itulah
yang dinamakan cemburu”.
“Cemburu?
Konyol”.
“Masih
belum sadar Mei? Ah pemahamanmu tentang cinta memang selalu buruk, wkwkwk”.
Aisha mulai meledek lagi.
“Tapi aku
berusaha mengelaknya, aku tak berhak, meskipun kami berteman cukup akrab”.
“Akui
saja, kamu mencintainya”
“Seperti
itukah?”
“Masih
belum sadar? Mau mencari tau dengan cara yang bagaimana lagi? Hanya melihat
komentar di sebuah status facebook saja hatimu sudah sakit, bagaimana kalau dia
dekat atau mungkin pacaran dengan perempuan lain?”
“Entahlah....”.
Aku menunduk lesu.
“Kamu ini
memang sulit jatuh cinta, tapi kalo udah sayang sama seseorang ya begitu,
cemburuan.... hahaa”, Aisha meledekku lagi.
“Bagaimana
cara menghapusnya, setidaknya mengurangi?”
“Jika
kamu berkomentar seperti itu dengan teman cowokmu yang lain, apakah menurutmu
itu biasa?”
“Iya”
“Lalu
kenapa saat dia meng-comment status
perempuan lain, kamu merasa sakit?
“Entahlah,
aku sudah berusaha untuk tidak begini, tapi tetap saja sakit”
“Dengar
Mei, hatimu hanya perlu terbiasa untuk peka menghadapi hal kecil seperti ini.
Hatimu sekarang mungkin terlalu lembek, itu yang menyebabkan rasa sakit begitu
mudah menusuk. Jangan biarkan ia menyerang hatimu. Jika itu adalah rasa egois,
maka berantas ia. Ia hanya akan menghancurkan segalanya, termasuk perasaan
cinta. Percayalah, jika seorang laki-laki telah menyayangi seorang wanita, ia
tak akan mudah untuk melupakannya begitu saja, ini pernah ku dengar dari cerita
abangku. Kamu perlu berlatih, cemburu memang wajar tapi kalau sudah melebihi
batas, akan berefek negatif pada diri kita sendiri termasuk orang lain. Itu
salah satu sebab kenapa sepasang kekasih atau bahkan sepasang suami istri
sering bertengkar. Rasa semburu yang sulit dikendalikan. Ketika hati mulai
terasa sakit dan panas karena kobaran api cemburu yang mulai menyala, segala
sikap yang buruk beserta sumpah serapah akan keluar, tak jarang justru orang
yang tak tau apa-apa malah ikut menjadi korban. Latihlah hatimu agar ia peka.
Berusahalah percaya pada orang lain, terlebih pada orang yang kamu sayang.
Yakinlah, kepercayaan itu akan berbuah kebaikan. Itu bisa dijadikan ladang
pahala. Percaya, Allah pun akan menggantinya dengan kebaikan pula, kebaikan yang
berkah, insyaallah.”
***
“Ustadzah mulai ceramah deh..”
“Ampun
deh, Mei, sekali-sekali nurut apa sama kata-kata mutiaraku, hahaha..”
“Ih
dasar, kata mutiara mana ada sepanjang itu. Lebay banget malah. Sok bijak pula”.
“Hmmmm,
percuma ngomong sama jomblo, besok-besok jangan curhat sama aku lagi, ingat loh
ya!”
“Eh eh
jangan ngambek dong sahabatku sayang, nggak kasian apa lihat aku galau....”
“Ah nggak
ngaruh, mending pulang aja ah udah mau maghrib nih, dah jomblo akut, wkwkwk”.
Aisha
meninggalkanku sambil berlari-lari kecil. Meski begitu aku tahu dia adalah
orang pertama yang selalu bersedia menjadi pendengar yang baik saat aku ingin
mencurahkan segala cerita yang kupunya. Oke, nasihat panjang dari sahabat
terbaikku Aisha akan ku coba pahami. Harus!
Ditulis oleh Nur Ahdiah
Sabtu, 10
Agustus 2013 (Ba’da isya)
0 komentar:
Posting Komentar